PSBB di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik Dinilai Lebih Berhasil dari pada Surabaya

Gresik (cetbang.com) – Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di wilayah Sidoarjo dan Gresik dinilai lebih berhasil daripada di Surabaya. Hal ini dilihat melalui evaluasi dari sejumlah data.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di Jatim dr Joni Wahyuadi mengatakan PSBB di Surabaya Raya sebetulnya tidak jelek-jelek amat, namun juga tidak terlampau gagal.

“Melihat data-data ini dan data-data pasien yang ada sampai sekarang kita memang evaluasi sebelum PSBB dan kemudian Minggu berikutnya, Kalau kita mau lihat data lebih detil sebetulnya (Hasil PSBB) tidak jelek-jelek amat, tidak gagal amat,” kata Joni di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (7/5/2020)..
Joni menyebut tren kenaikan kasus di luar Surabaya, seperti di Sidoarjo dan Gresik memang cenderung turun. Namun diakuinya, penambahan pasien ini bisa saja tertularnya sejak beberapa waktu lalu sebelum PSBB diterapkan.

Joni menyebut tren kenaikan kasus di luar Surabaya, seperti di Sidoarjo dan Gresik memang cenderung turun. Namun diakuinya, penambahan pasien ini bisa saja tertularnya sejak beberapa waktu lalu sebelum PSBB diterapkan.

“Kalau kita lihat di luar daerah itu turun, memang yang muncul sekarang PDP yang sekarang confirm (positif), bisa juga interaksinya beberapa minggu yang lalu. Jadi kalau kita lihat masa inkubasinya antara 3 hari sampai 14 hari,” papar Joni.

“Memang tidak semua PDP menjadi confirm. Itu masalah (yang confirm) sekarang bisa juga masalah minggu atau seminggu sebelum PSBB diterapkan. Cuma sekarang yang kita lihat penambahan per hari ini yang menjadi perhatian salah satunya penambahan kematian karena salah satu parameter PSBB adalah penurunan angka kematian kurang dari 5%,” lanjutnya.

Kendati demikian, Joni menampik jika PSBB yang diterapkan di Surabaya Raya tidak membawa hasil. Menurutnya, di Sidoarjo dan Gresik angka kenaikannya mulai menurun dan mendatar atau flat.

“Jadi sebetulnya tidak membawa hasil juga tidak. Karena di luar daerah itu Gresik dan Sidoarjo turun dan flat itu artinya kan ada hasil,” imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, Joni menyebut keberhasilan PSBB itu tak hanya dari peran pemerintah. Namun, juga dari tingkat kepatuhan masyarakat. Sedangkan di Surabaya, Joni menyebut masyarakat masih banyak yang belum patuh.

“Memang PSBB itu nggak bisa hanya pemerintah sendiri, harus bareng-bareng bagaimana menggerakkan rakyat physical distancing kemudian alat proteksi diri seperti masker. Bisa dilihat sendiri. Monggo dilihat sendiri di Surabaya. Kalau mengharapkan seperti ini rasanya dengan situasi yang kita lihat sehari-hari di sini,” jelas Joni.

Selain itu, Joni mengatakan sejak awal kasus COVID-19 di Gresik dan Sidoarjo memang persentasenya lebih kecil dari Surabaya. Namun tingkat penurunannya sudah mulai nampak.

Untuk itu, Joni meminta pemerintah Kota Surabaya agar lebih tegas dan agresif untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

“Gresik sama Sidoarjo memang basisnya lebih sedikit, tapi dengan kasus sedikit yang lebih kecil dari Surabaya bisa hasilkan penurunan. Kalau di Surabaya kasusnya tinggi memang, upayanya harus lebih tinggi dari Gresik dan Sidoarjo. Mohon maaf ini kajian dari sisi ilmiah, ndak ada dari politis,” pungkas Joni.

Sementara dari data yang dihimpun, jumlah kasus Corona di Surabaya mencapai 592 pasien. Ada 91 pasien yang sembuh dan 78 pasien meninggal dunia.

Sedangkan di Sidoarjo, ada 152 pasien positif COVID-19. dari data ini ada 13 pasien yang sembuh dan 16 yang meninggal. Untuk data di Gresik total ada 37 kasus positif Corona, 8 Pasien Sembuh dan 6 meninggal.

Leave a Comment